<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>OZIP Magazine</title>
	<atom:link href="http://ozip-magazine.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ozip-magazine.com</link>
	<description>The Most Anticipated Indonesian Magazine in Australia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 09 May 2012 16:32:37 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Mini Marche</title>
		<link>http://ozip-magazine.com/?p=2260</link>
		<comments>http://ozip-magazine.com/?p=2260#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 May 2012 16:32:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>OZIP Team</dc:creator>
				<category><![CDATA[Culinary]]></category>
		<category><![CDATA[Entertainment]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ozip-magazine.com/?p=2260</guid>
		<description><![CDATA[Bagi Anda para penggemar brunch di Melbourne, tentu saja nama The Hardware Societe sudah sering terdengar. Tidak banyak yang bisa dikeluhkan dari tempat yang popular ini selain kapasitas tempatnya. Sudah tidak aneh lagi jika Anda diharuskan untuk mengantri sebelum bisa mendapatkan tempat duduk di sini. Tetapi dengan baru dibukanya Mini Marche, Anda tidak harus mengantri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ozip-magazine.com/wp-content/uploads/2012/05/chill-IMG_8286.jpg" rel="shadowbox[post-2260];player=img;"><img class="alignleft size-medium wp-image-2263" title="chill IMG_8286" src="http://ozip-magazine.com/wp-content/uploads/2012/05/chill-IMG_8286-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a>Bagi Anda para penggemar brunch di Melbourne, tentu saja nama <em>The Hardware Societe</em> sudah sering terdengar. Tidak banyak yang bisa dikeluhkan dari tempat yang popular ini selain kapasitas tempatnya. Sudah tidak aneh lagi jika Anda diharuskan untuk mengantri sebelum bisa mendapatkan tempat duduk di sini. Tetapi dengan baru dibukanya <em>Mini Marche</em>, Anda tidak harus mengantri sesering itu lagi.</p>
<p><em>Mini Marche </em>adalah sebuah ekstensi dari <em>The Hardware Societe</em>. Namun lebih dari itu, tempat ini<em> </em>juga merupakan sebuah <em>foodstore</em> yang menawarkan bermacam-macam makanan untuk Anda bawa pulang. Masih menawarkan menu-menu andalan yang biasa ditemukan di <em>The Hardware Societe</em>, <em>Mini Marche</em> juga meghadirkan atmosfir yang <em>homy</em> seraya para pelanggannya sedang menikmati brunch mereka lengkap dengan latte dan hot chocolate pilihan.</p>
<p><a href="http://ozip-magazine.com/wp-content/uploads/2012/05/chill-IMG_8263.jpg" rel="shadowbox[post-2260];player=img;"><img class="alignleft size-medium wp-image-2262" title="chill IMG_8263" src="http://ozip-magazine.com/wp-content/uploads/2012/05/chill-IMG_8263-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a>Makanan-makanan yang bisa Anda bawa pulang dari tempat ini juga beragam. Mulai dari French salted caramels sampai dengan cokelat yang dikemas dalam kaleng yang berbau <em>artsy-fartsy</em>. Selain itu, Mini Marche menyediakan berbagai makanan yang berkisar dari <em>Spanish sweets, French Pate, Chestnut Pate </em>sampai dengan <em>Saffron Rice</em> dan banyak lagi</p>
<p>Menurut OZIP, <em>The Hardware Societe </em>telah lama menjadi salah satu tempat terbaik untuk menikmati sepiring brunch dan secangkir kopi di Melbourne. Dengan hadirnya <em>Mini Marche,</em> Anda akan bisa membawa sedikit dari atmosfir tempat ini dan makanannya ke dalam rumah Anda.</p>
<p><a href="http://ozip-magazine.com/wp-content/uploads/2012/05/chill-IMG_8243.jpg" rel="shadowbox[post-2260];player=img;"><img class="alignleft size-medium wp-image-2261" title="chill IMG_8243" src="http://ozip-magazine.com/wp-content/uploads/2012/05/chill-IMG_8243-199x300.jpg" alt="" width="199" height="300" /></a>Mini Marche</p>
<p>120 Hardware Street, Melbourne</p>
<p>(03) 9078 5992</p>
<p>Mon &#8211; Fri 7.30am &#8211; 3.00pm</p>
<p>Sat 8.30 am &#8211; 2.00pm</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ozip-magazine.com/?feed=rss2&amp;p=2260</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Piagam Ibu</title>
		<link>http://ozip-magazine.com/?p=2257</link>
		<comments>http://ozip-magazine.com/?p=2257#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 May 2012 16:28:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andrie Wongso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Columns]]></category>
		<category><![CDATA[Wisdom and Motivation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ozip-magazine.com/?p=2257</guid>
		<description><![CDATA[
Suatu hari, di sebuah rumah terlihat kesibukan penghuninya. Mereka bersama-sama mengangkat, menggeser, dan memindah-mindahkan berbagai macam perabot rumah dengan diselingi canda dan sapa akrab di antara mereka. Rupanya seiring dengan bertambahnya usia, anak-anak ingin kamar tidur terpisah, sehingga ada keleluasaan untuk mengatur barang-barang mereka sendiri.
Bersama mereka merencanakan pembagian ruang, perabotan, dan tugas, dan sengaja meluangkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ozip-magazine.com/wp-content/uploads/2012/05/mother1.jpg" rel="shadowbox[post-2257];player=img;"><img class="alignnone size-medium wp-image-2258" title="mother1" src="http://ozip-magazine.com/wp-content/uploads/2012/05/mother1-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Suatu hari, di sebuah rumah terlihat kesibukan penghuninya. Mereka bersama-sama mengangkat, menggeser, dan memindah-mindahkan berbagai macam perabot rumah dengan diselingi canda dan sapa akrab di antara mereka. Rupanya seiring dengan bertambahnya usia, anak-anak ingin kamar tidur terpisah, sehingga ada keleluasaan untuk mengatur barang-barang mereka sendiri.</p>
<p>Bersama mereka merencanakan pembagian ruang, perabotan, dan tugas, dan sengaja meluangkan waktu libur untuk merenovasi sesuai rencana yang telah disepakati. Di keluarga itu, ayah dan anak-anak memiliki kesamaan minat dan aktif di berbagai kegiatan dan organisasi, seperti olah raga, kesenian dan kegiatan sosial lainnya. Itu bisa dilihat dari banyaknya piagam penghargaan dan piala yang berhasil didapat dan saat ini tegeletak di berbagai sudut, terbengkalai dan belum tersentuh.</p>
<p>Setelah memikirkan bersama, mereka memastikan piagam dan piala akan ditempatkan di ruang tamu dengan menambahkan rak pajang. Sambil bernostalgia mengingat saat kemenangan, si sulung berkomentar, “Bu, rasanya enggak komplit lho, di antara piala dan piagam ini tidak ada nama ibu. Waktu ibu muda sampai sekarang, apa ibu enggak pernah ikut pertandingan?</p>
<p>“Wah kalau ibu kalian ikut bertanding dan menjadi pemenang juga, kita semakin repot dong mencari tempat untuk menyimpan piala dan piagam ini, hahaha,” timpal sang ayah.</p>
<p>“Eh, Ibu juga punya piagam, lho… Bukan hanya satu, tapi dua! Penasaran? Kalau ingin tahu piagam apa yang ibu punya, sediakan saja dua paku kosong, besok akan ibu gantung piagamnya di sana,” sambil tersenyum misterius, ibu melanjutkan kerjanya.</p>
<p>Ayah dan anak saling bertanya lewat tatapan mata. Bersamaan mengangkat bahu tanda masing-masing tidak mempunyai jawaban atas pernyataan piagam rahasia milik ibu.</p>
<p>Dengan penasaran, keesokan harinya mereka segera melihat di ruang tamu. Ah… pakunya masih kosong! Saat selesai makan malam, ibu pun mengumumkan layaknya seorang pembawa acara.</p>
<p>“Hadirin, sesuai janji kemarin, piagam yang ibu dapatkan sudah tergantung di tempatnya, silakan ke ruang tamu untuk melihatnya!” Mereka berhamburan ke ruang tamu ingin segera tahu, kejuaraan apa yang telah dimenangkan oleh ibu atau piagam penghargaan seperti apa yang telah dirahasiakan ibu selama ini? Pasti sangat luar biasa sampai orang serumah tidak pernah ada yang tahu!</p>
<p>Setiba di sana, terpampang di tembok telah dipigura, akte kelahiran masing-masing anak. Mereka terkesima dan begitu tersadar, si sulung segera memeluk ibunya, “Iya Bu, ini adalah piagam paling berharga di seluruh dunia. Pertanda Ibu telah memenangkan pertandingan terbesar dan terhebat karena diperjuangkan dengan taruhan nyawa. Piala dan piagam yang kami dapat, tidak sepadan dengan piagam yang ibu punya. Terima kasih telah mengingatkan dan maafkan kesombongan kami, Bu,” dengan terharu mereka berpelukan.</p>
<p>Pembaca OZIP yang Luar Biasa!</p>
<p>Seorang ibu, walaupun tanpa piagam dan penghargaan apapun, tetap adalah pahlawan bagi anak-anaknya. Entah semewah atau sesederhana apapun sebuah rumah, sosok ibu adalah tempat terindah untuk anak-anaknya pulang.</p>
<p>Semoga, saat ini masih ada kesempatan buat kita untuk berbakti kepada ibu dan senantiasa mensyukuri bahwa melalui dialah kita ada.</p>
<p>Salam sukses, Luar Biasa!</p>
<p>Picture:  modernwoman1018.blogspot.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ozip-magazine.com/?feed=rss2&amp;p=2257</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>AUTISM</title>
		<link>http://ozip-magazine.com/?p=2254</link>
		<comments>http://ozip-magazine.com/?p=2254#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 May 2012 16:20:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Priscilla Handoko</dc:creator>
				<category><![CDATA[Columns]]></category>
		<category><![CDATA[Health]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ozip-magazine.com/?p=2254</guid>
		<description><![CDATA[
Autism is a complex biological disorder. Symptoms include difficulties with speech; abnormalities of posture or gesture; problems with understanding the feelings of others; sensory and visual misperceptions, fears and anxieties; and behavioural abnormalities such as compulsive/obsessive behaviour and ritualistic movements.
What causes Autism?
No single cause has been established, although genetic and environmental factors are implicated. There [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ozip-magazine.com/wp-content/uploads/2012/05/autism-detection-voice.jpg" rel="shadowbox[post-2254];player=img;"><img class="alignnone size-medium wp-image-2255" title="autism-detection-voice" src="http://ozip-magazine.com/wp-content/uploads/2012/05/autism-detection-voice-300x201.jpg" alt="" width="300" height="201" /></a></p>
<p>Autism is a complex biological disorder. Symptoms include difficulties with speech; abnormalities of posture or gesture; problems with understanding the feelings of others; sensory and visual misperceptions, fears and anxieties; and behavioural abnormalities such as compulsive/obsessive behaviour and ritualistic movements.</p>
<p><strong>What causes Autism?</strong><strong><br />
</strong>No single cause has been established, although genetic and environmental factors are implicated. There is growing evidence that nutritional therapy can really make a big difference to children with autism. Many have severely disrupted digestion, so a major focus must be restoring balance here. Also, you’ll need to balance their blood sugar, check for brain-polluting heavy metals, exclude food additives, identify food allergies and possible nutrient deficiencies, and ensure an optimal intake of essential fats.</p>
<p><strong>DIET &amp; NUTRITION </strong><br />
<strong>INCREASE OMEGA 3 FATS</strong><strong><br />
</strong>Deficiencies in essential fats are common in people with autism. Research by Dr Gordon Bell at Stirling University has shown that some autistic children have an enzymatic defect that removes essential fats from brain cell membranes more quickly than it should. This means that an autistic child is likely to need a higher intake of essential fats than the average. And it has been found that supplementing EPA, which can slow the activity of the defective enzyme, has clinically improved behaviour, mood, imagination, spontaneous speech, sleep patterns and focus of autistic children.<br />
<strong>INCREASE VITAMINS AND MINERALS</strong><strong><br />
</strong>We’ve known since the 1970s that a nutritional approach can help autism, thanks to the pioneering research by Dr Bernard Rimland of the Institute for Child Behaviour Research in San Diego, California. He showed that vitamin B6, C and magnesium supplements significantly improved symptoms in autistic children. In one of his early studies back in 1978, 12 out of 16 autistic children improved, then regressed when the vitamins were swapped for placebos. In the decades following Dr Rimland’s study, many other researchers have also reported positive results with this approach.</p>
<p>Still others have, however, failed to confirm positive outcomes with certain nutrients. For example, a French study of 60 autistic children found they improved significantly on a combination of vitamin B6 and magnesium, but not when either nutrient was supplemented alone. This study shows how important it is to get the balance of these nutrients right. It’s likely to be different for each child.</p>
<p>B6 in particular may help, in part because many children with autism or learning difficulties have pyroluria, a condition in which, for genetic reasons, high levels of compounds called kryptopyrroles are excreted in the urine, causing a deficiency of zinc and vitamin B6. All children on the autistic spectrum should be screened for pyroluria. This involves a simple and inexpensive urine test for kryptopyrroles and supplementing with appropriate levels of B6 and zinc, which have brought about remarkable improvements.</p>
<p>Paediatrician Mary Megson from Richmond, Virginia, believes that many autistic children are lacking in vitamin A. Otherwise known as retinol, vitamin A is essential for vision. It is also vital for building healthy cells in the gut and brain.</p>
<p>The best sources of vitamin A are breast milk, organ meats, milk fat, fish and cod liver oil, none of which are prevalent in our diets. Instead, we have formula milk, fortified food and multivitamins, many of which contain altered forms of retinol such as retinyl palmitate, which doesn’t work as well as the fish or animal-derived retinol. Megson began speculating what might happen if these children weren’t getting enough natural vitamin A.</p>
<p>She realised that not only would this affect the integrity of the digestive tract, potentially leading to allergies. It would also affect the development of their brains, and disturb their vision. Both brain differences and visual defects have been detected in autistic children. The visual defects, Megson deduced, were an important clue because lack of vitamin A would mean poor black and white vision, a symptom often seen in the relatives of autistic children. If you can’t see black and white, you can’t see shadows. And without that you lose the ability to perceive three-dimensionality. This in turn leaves you less able to make sense of people’s expressions, which could explain why some autistic children tend not to look straight at you. They look at you sideways. Long thought to be a sign of poor socialisation, this sideways technique may in fact be the best way for them to see people’s expressions, because there are more black and white light receptors at the edge of the visual field than in the middle.</p>
<p>Picture: technorati.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ozip-magazine.com/?feed=rss2&amp;p=2254</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Problem kulit berpori-pori besar</title>
		<link>http://ozip-magazine.com/?p=2251</link>
		<comments>http://ozip-magazine.com/?p=2251#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 May 2012 16:17:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jane Lim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Beauty]]></category>
		<category><![CDATA[Columns]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ozip-magazine.com/?p=2251</guid>
		<description><![CDATA[
Problem kulit muka  berpori-pori besar kadang terasa  mengganggu karena penampilan wajah yang kurang terlihat mulus atau licin, terutama saat musim panas dimana kulit kadang2 terasa lebih berminyak. Besar kecilnya pori-pori pada kulit muka kita terpengaruh oleh beberapa hal, antara lain genetika (faktor keturunan), perubahan hormonal, produksi minyak dalam tubuh kita maupun usia. Belum ada perawatan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ozip-magazine.com/wp-content/uploads/2012/05/beauty-stylefeatures-81764882-1301646960.jpg" rel="shadowbox[post-2251];player=img;"><img class="alignnone size-medium wp-image-2252" title="beauty stylefeatures-81764882-1301646960" src="http://ozip-magazine.com/wp-content/uploads/2012/05/beauty-stylefeatures-81764882-1301646960-300x139.jpg" alt="" width="300" height="139" /></a></p>
<p>Problem kulit muka  berpori-pori besar kadang terasa  mengganggu karena penampilan wajah yang kurang terlihat mulus atau licin, terutama saat musim panas dimana kulit kadang2 terasa lebih berminyak. Besar kecilnya pori-pori pada kulit muka kita terpengaruh oleh beberapa hal, antara lain genetika (faktor keturunan), perubahan hormonal, produksi minyak dalam tubuh kita maupun usia. Belum ada perawatan khusus yang secara total menjadikan pori-pori menjadi kecil, tetapi ada beberapa langkah yang dapat dilakukan agar pori-pori mengecil, misalnya;</p>
<ul>
<li>Gunakan perawatan muka atau cream yang banyak mengandung vitamin A ataupun E sebagai antioksidan yang juga bermanfaat sebagai anti-aging.</li>
<li>Untuk kulit berpori lebar dan berminyak, gunakan toner astringent yang dapat mengurangi kelebihan minyak pada kulit dan mengencangkan pori-pori.</li>
<li>Perawatan khusus seperti <em>peel treatment</em>, microdermabrasion, deep cleansing ataupun deep exfoliating treatments dapat menghilangkan black head ataupun white head (sumbatan white head ataupun black heads akan menjadikan pori-pori terlihat lebih lebar).</li>
<li>Perawatan dengan peel treatment akan memperbaharui kulit /skin renewal sehingga kulit terlihat lebih cerah dan kencang.</li>
<li>Untuk kulit berpori lebar dan berjerawat, penggunaan acne medication yang mengandung salycilic acid ataupun retinoid yang berfungsi juga untuk mengeringkan dan pengelupasan kulit mati akan memacu pertumbuhan kulit baru yang lebih sehat dan pori-pori akan terlihat lebih kecil.</li>
<li>Untuk kulit berpori lebar dan mempunyai black heads yang bandel dan menyumbat pori-pori, sebaiknya melakukan perawatan dengan beauty therapist ataupun dermatologist untuk dibersihkan/extract, dan sangat tidak disarankan untuk melakukan squeezing sendiri  karena akan menjadikan pori-pori bertambah lebar dan timbulnya <em>scar </em>atau bekas luka.</li>
</ul>
<p>Saran-saran lain untuk mengurangi kulit yang berkesan berminyak, menyumbat pori-pori dan membawa kesan pori-pori menjadi lebar adalah dengan banyak mengkonsumsi buah dan sayur-sayuran, serta menghindari makanan gorengan ataupun <em>fatty food.</em></p>
<p>Make up tip untuk kulit berpori besar:<br />
·      Gunakan pre-base/pre-foundation (primer), tunggu beberapa saat, dan setelah kering, baru memakai foundation yang bersifat cream sehingga akan lebih menutup pori-pori dibanding liquid foundation. Terakhir barulah menggunakan bedak/loose powder.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ozip-magazine.com/?feed=rss2&amp;p=2251</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>A World Without Mothers</title>
		<link>http://ozip-magazine.com/?p=2247</link>
		<comments>http://ozip-magazine.com/?p=2247#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 May 2012 16:10:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>OZIP Team</dc:creator>
				<category><![CDATA[Columns]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ozip-magazine.com/?p=2247</guid>
		<description><![CDATA[During this time of the year, we are always reminded to appreciate and honour our mothers, to buy some flowers on the way home, or to give her some chocolates.
On this day, we might have some family gathering, or call our mothers from overseas, thanking her for what she has done and telling her that [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ozip-magazine.com/wp-content/uploads/2012/05/mother.jpg" rel="shadowbox[post-2247];player=img;"><img class="alignleft size-medium wp-image-2248" title="mother" src="http://ozip-magazine.com/wp-content/uploads/2012/05/mother-300x201.jpg" alt="" width="300" height="201" /></a>During this time of the year, we are always reminded to appreciate and honour our mothers, to buy some flowers on the way home, or to give her some chocolates.</p>
<p>On this day, we might have some family gathering, or call our mothers from overseas, thanking her for what she has done and telling her that we love her.</p>
<p>Yet it’s done as if we fail to appreciate her for the other 364 days of the year.</p>
<p>Mother, the woman who has given birth to us, may be our closest person, or she may be the most distant. She may be protective and strict, or she may be lenient and submissive to her children’s demands. Yet, she is a mother.</p>
<p>But what is a mother?</p>
<p>JK Rowling believes that a mother’s love can make her child cheats death. Abraham Lincoln believes that great men are born from great mothers. Barney Stinson realises that a hell of a mother can even fill the gap of not having a father. Forrest Gump knows that he succeeds because of her mother’s teaching.</p>
<p>So let’s consider another question. What would it be like, a world without mothers?</p>
<p>Here’s our day-trip towards another world, a world where no mothers exist.</p>
<p>When we go out to have our breakfast, the café would be packed with women in their 30s and 40s, but oddly, there are no prams to be found. They are just women who give birth to their children yet do not tend to their children’s needs, dropping their toddlers on a child care and having fun with their girlfriends.</p>
<p>After we are finished with our morning coffee, we walk to the city and have some sightseeing at the skyscrapers, only to realise that there are so many professional looking women entering each of the buildings. They all are pursuing their dream jobs and there’s no way that they are willing to give up all that to become a full-time stay-at-home Mom.</p>
<p>We then take a stroll along the park. Again, we see no prams around, and children were having soccer competition with no one’s watching them. No one is cheering when the children score a goal. It is just an oddly quiet day, with the sound of the coach’s whistle piercing our ears.</p>
<p>After lunch, we visit a local school nearby, and we see aggressiveness, violence, and troubles among the kids. No one has ever known what it feels to be cared and to be loved, and no one has a secured attachment with their mothers. The teachers are seen on the edge of giving up.</p>
<p>Looking at the time, we decide to give a visit to the hospital, a place that is always full of patients, but oddly no visitors. The neonatal clinic is full of babies who are struggling to breathe, born prematurely or with a defect. But there are no mothers who try to cuddle their newborn babies, or give that radiant smile when she heard the child’s first cry.</p>
<p>After a while, we make our way to the psychology clinic. Most teenagers there are anorexic, depressed, and having suicidal problems.</p>
<p>Just before it gets dark, we head home wondering, because we always thought that a world without mothers means there’s no one to nag you to go to bed when it’s past midnight. No one is there to tell you what to do, when to do it, and how to actually properly do the stuff.</p>
<p>No one is screaming to wake you up in the morning, or frantically trying to tell you to wash your face before going to bed. No one will tell you to practice your piano lessons. No one is there to treat you like a 10-year-old when you’re 25 just because in her eyes, you will be forever young.</p>
<p>But then, we remember looking at those motherless children’s hollow eyes, and we realise that with all those freedom, it also means there’s no breakfast in bed when you’re sick. There will be no hug after getting bullied in school during the second grade. We will hear no bedtime stories, and we will find no cooked dishes and cleaned apartment after trying hard to survive our first year in uni. We realise that there will be no one to turn to when all else fails. And we would know no love.</p>
<p>So what would it be, a world without mothers?</p>
<p>Certainly, Harry Potter would not even be alive. Abraham Lincoln would never become president, let alone a president who ended slavery. And Barney Stinson? He may be a more legen-wait for it-dary character than he already is, which may actually be a negative thing. Ted Mosby wouldn’t be telling his children on how he met their mother, and Tom Hanks would never win Oscar for being Forrest Gump.</p>
<p>And we just simply would not exist.</p>
<p><em>“All that I am or ever hope to be, I owe to my angel Mother.”</em></p>
<p><em> Abraham Lincoln</em></p>
<p>Text by: Marcella Purnama</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ozip-magazine.com/?feed=rss2&amp;p=2247</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>DUIT</title>
		<link>http://ozip-magazine.com/?p=2244</link>
		<comments>http://ozip-magazine.com/?p=2244#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 May 2012 16:06:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nuim Khaiyath</dc:creator>
				<category><![CDATA[Columns]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ozip-magazine.com/?p=2244</guid>
		<description><![CDATA[Orang bilang duit bisa bicara. Duit saya pandainya hanya bilang &#8220;selamat tinggal&#8221;.
Ada orang yang mengatakan duit sama sekali bukan masalah, yang menjadi masalah adalah: apa yang dilakukan pemiliknya dengan duit itu. Dalam Bible diingatkan bahwa &#8220;For the love of money is the root of all sorts of evil&#8221; (1 Timothy 10).
Bagi yang kurang mampu bersyukur, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ozip-magazine.com/wp-content/uploads/2012/05/australian-money.jpg" rel="shadowbox[post-2244];player=img;"><img class="alignleft size-medium wp-image-2245" title="australian-money" src="http://ozip-magazine.com/wp-content/uploads/2012/05/australian-money-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a>Orang bilang duit bisa bicara. Duit saya pandainya hanya bilang &#8220;selamat tinggal&#8221;.</p>
<p>Ada orang yang mengatakan duit sama sekali bukan masalah, yang menjadi masalah adalah: apa yang dilakukan pemiliknya dengan duit itu. Dalam Bible diingatkan bahwa &#8220;For the love of money is the root of all sorts of evil&#8221; (1 Timothy 10).</p>
<p>Bagi yang kurang mampu bersyukur, maka duit laksana minuman bergaram &#8211; semakin diteguk kian menghauskan. Tidak pernah cukup, dan pemilik duit lebih cenderung membandingkan kekayaannya dengan orang yang lebih kaya. Pada hal petuah yang terbaik adalah: &#8220;Ketika kita meratap sedih karena tidak punya sepatu, ingatlah bahwa ada orang yang tidak punya kaki!&#8221;</p>
<p>Bicara soal uang, menurut pakar dari North Western University di Amerika Serikat, Jeffrey Winters, kekayaan masing-masing dari ke-500 oligark (konglomerat) di Amerika sebanding dengan harta 20-ribu rakyat biasa di Amerika; di Singapura sebanding dengan kekayaan 25-ribu rakyat biasanya; di Indonesia? Sebandinga dengan kekayaan 600-ribu rakyat jelatanya. Bayangkan kesenjangannya &#8211; dan harus diingat para oligark inilah yang diendus sebagai pemegang kekuasaan yang sesungguhnya di Indonesia.</p>
<p>Ada kisah teladan dalam khazanah kesusasteraan Tiongkok yang sangat menarik mengenai penyikapan terhadap duit, menurut hemat penulis.</p>
<p>Konon, anak bungsu seorang hartawan diculik penjahat yang menuntut uang tebusan. Sang ayah akhirnya memutuskan untuk menugaskan putranya yang ke-4 untuk melakukan perundingan dengan para penculik. Putra yang ke-4 itu lahir dan dibesarkan ketika sang ayah sudah menjadi kaya raya, setelah sebelumnya ia sempat miskin papa. Tentu saja sang putra sulung tidak terima, karena ia menganggap dirinya paling berhak untuk mengemban tugas yang begitu penting. Akhirnya, karena ia bersikeras ayahnya mengalah dan menugaskannya untuk menghubungi para penculik dan merundingkan pembebasan anak bungsu kesayangan keluarga itu.</p>
<p>Setelah berhubungan dengan para penculik, sang anak sulung itu melakukan tawar-menawar yang alot sekali. Ia mencoba untuk menawarkan uang tebusan yang sekecil mungkin. Ia gigih tarik-ulur dan tidak mau cepat mengalah. Akhirnya para penculik kehilangan kesabaran mereka dan membunuh anak bungsu yang mereka culik itu.</p>
<p>Sang anak sulung kembali ke ayahnya untuk melaporkan tragedi itu. Dan sang ayah kemudian menjelaskan kenapa pada awalnya ia hendak menugaskan putranya yang ke-4, bukan putra sulungnya untuk merundingkan uang tebusan itu dengan para peculiknya.</p>
<p>Berkata sang ayah:</p>
<p>&#8220;Engkau pernah hidup miskin ketika aku masih belum menjadi kaya raya. Engkau pernah merasakan pahit getirnya hidup ini. Terkadang kita makan hanya dua kali sehari, terkadang bahkan hanya sekali sehari. Terkadang kita harus menahan lapar sepanjang hari. Karenanya engkau sangat hati-hati dengan uang.</p>
<p>Sebaliknya, adik engkau itu (sang putra ke-4) tidak pernah menderita kemiskinan. Baginya, duit sama sekali tidak ada artinya, seakan duit itu tumbuh di pohon. Kapan saja ia perlu duit, niscaya tersedia. Ia sudah terbiasa menghambur-hamburkan duit dan berfoya-foya dengan teman-temannya. Baginya hari ini adalah hari ini, dan esok lusa lain cerita. Itulah sebabnya aku lebih cenderung menugaskannya, supaya tidak banyak <em>cincong</em>, dan berapa pun yang dituntut para penculik, pasti akan dipenuhinya dan adiknya yang bungsu itu akan dibebaskan oleh para penculik.&#8221;</p>
<p>Jelas petuah di atas memang cukup membingungkan kita mengenai nilai duit.</p>
<p>Namun, hikmahnya adalah bahwa dalam keadaan apapun, duit harus menjadi hamba sahaya, bukan tuan bermahkota yang mengendalikan kita.</p>
<p>Tidak gampang memang mengatur duit dan payah bagi banyak orang untuk memahami nilai duit. Bahkan orang miskin sekalipun.</p>
<p>Beberapa waktu lalu sebuah media di Indonesia mewawancarai seorang penduduk desa yang mengeluh karena harga buku tulis untuk anaknya yang masih di sekolah dasar naik harganya menjadi seribu rupiah. Media itu menulis:</p>
<p>&#8220;Seraya menyedot rokok kretek yang terselip di antara telunjuk dan jari tengah tangannya, penduduk desa itu tidak kuasa menyembunyikan kekesalannya karena harga buku tulis untuk anaknya naik menjadi seribu rupiah.&#8221;</p>
<p>Media itu tidak perlu mengungkapkan lebih jauh, karena pembaca menyadari bahwa sang ayah tidak segan-segan mengeluarkan ribuan rupiah untuk keperluan rokoknya saban hari. Tetapi ia kesal karena modal untuk masa depan anaknya naik menjadi seribu rupiah &#8211; seribu rupiah yang harus dikeluarkannya, barangkali dua minggu sekali, atau sebulan sekali. Wallahu a&#8217;lam.#</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ozip-magazine.com/?feed=rss2&amp;p=2244</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Irmawan Emir Wisnandar</title>
		<link>http://ozip-magazine.com/?p=2238</link>
		<comments>http://ozip-magazine.com/?p=2238#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 May 2012 16:01:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>OZIP Team</dc:creator>
				<category><![CDATA[Features]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ozip-magazine.com/?p=2238</guid>
		<description><![CDATA[Masyarakat Indonesia di Melbourne boleh bergembira karena kita kedatangan Konsul Jenderal yang baru. Beliau adalah Bapak Irmawan Emir Wisnandar, yang akrab dipanggil Pak Emir. Kesan pertama OZIP saat mendapat kehormatan untuk bercakap-cakap langsung dengan beliau sangatlah baik. Beliau sangat ramah dan senang bergurau. “Kamu horoskopnya apa?” adalah pertanyaan pertama yang beliau lancarkan pada OZIP.
Sekilas Pandang
Pak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ozip-magazine.com/wp-content/uploads/2012/05/konjen-IMG_8403.jpg" rel="shadowbox[post-2238];player=img;"><img class="alignleft size-medium wp-image-2241" title="konjen IMG_8403" src="http://ozip-magazine.com/wp-content/uploads/2012/05/konjen-IMG_8403-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a>Masyarakat Indonesia di Melbourne boleh bergembira karena kita kedatangan Konsul Jenderal yang baru. Beliau adalah Bapak Irmawan Emir Wisnandar, yang akrab dipanggil Pak Emir. Kesan pertama OZIP saat mendapat kehormatan untuk bercakap-cakap langsung dengan beliau sangatlah baik. Beliau sangat ramah dan senang bergurau. “Kamu horoskopnya apa?” adalah pertanyaan pertama yang beliau lancarkan pada OZIP.</p>
<p><strong>Sekilas Pandang</strong></p>
<p>Pak Emir lahir pada tanggal 5 Januari 1956 di Surabaya. Sejak SD hingga lulus SMA, Pak Emir menuntut ilmu di Jakarta. Saat OZIP bertanya tentang hobby, selain travelling, nonton, dan main golf, Pak Emir pun menjawab, “ Ya… Saya hobby baca. Baca itu… Report.” Sekejap, ruang pun diisi dengan gelak tawa. “Saya juga suka main PS3 bersama anak saya.”</p>
<p>Ayah dari tiga orang anak, Bagus – Wibi – Gilang, ini melewati masa kuliahnya di Universitas Parahyangan mengambil jurusan pembangunan. Beliau lulus pada tahun1984 dan meneruskan ke Sekolah Staff Pejabat (SESPA). Setelah melalui sekolah dan penempatan-penempatan, beliau lulus dari SESPA pada tahun 2002.</p>
<p><strong>Menjadi Seorang Diplomat</strong></p>
<p>Untuk masalah karir, pria berhoroskop Capricorn ini mengaku tidak pernah bercita-cita untuk menjadi seorang diplomat. Terlebih lagi, dulu Pak Emir ingin menjadi seorang wiraswastawan. “Ya dulu sih saya mau punya usaha sendiri, tapi karena bapak saya bekerja di Angkatan Udara, beliau dan ibu ingin anaknya meneruskan karir di bidang pemerintahan. Ya… Saya ikut saja. Hahaha,” ujarnya sambil tertawa.</p>
<p>“Senangnya jadi seorang diplomat tentu karena kita mendapat kesempatan untuk memperluas network, dalam artian menambah kawan. Kita juga bisa menambah ilmu dan mengembangkan diri sendiri dengan pengetahuan-pengetahuan dari negara-negara yang kita kunjungi,” jawab beliau saat OZIP menanyakan tentang suka duka menjadi seorang diplomat. “Dukanya, kita kehilangan kontak, terutama untuk anak-anak ya, dengan teman-temannya. Jadi untuk anak itu kasihan karena setiap saat mereka harus melakukan penyesuaian budaya dan kepribadian. Kalau untuk saya sendiri, saat dulu orang tua masih ada, ya sedih karena harus jauh dari mereka.” sambungnya.</p>
<p>Layaknya seorang anak yang baik, Pak Emir yang juga dekat sekali dengan anak-anaknya, ingin sekali berbakti kepada kedua orang tuanya. “Tentu saya ingin sekali bisa berada di dekat kedua orang tua saya, terutama saat mereka sudah berumur sehingga bisa merawat dan memperhatikan mereka setiap saat. Akan tetapi karena saya banyak ditugaskan di luar negeri, jadi agak sulit,” ungkap beliau.</p>
<p>Australia adalah negara keempat tempat beliau ditugaskan. Sebelumnya, beliau pernah ditugaskan di Amerika (Washington DC), Thailand, dan Singapore. Mendengar kisah beliau tentang keluarga, OZIP menjadi semakin penasaran dengan tanggapan keluarga beliau tentang pekerjaan ini. “Keluarga saya sangat suportif. Mereka juga bangga saat saya bisa mendapat penempatan bagus di Washington. Kemudian juga saat saya diangkat menjadi Deputy Director mereka bangga sekali, terutama orang tua saya. Sayangnya mereka tidak pernah melihat anaknya diangkat menjadi Direktorat Jenderal untuk menangani kerja sama ASEAN di bidang sosial budaya. Ini sebenarnya yang saya ingin tunjukan kepada kedua orang tua saya agar mereka senang dan bangga,” kenang beliau.</p>
<p><strong><a href="http://ozip-magazine.com/wp-content/uploads/2012/05/konjen-IMG_8307.jpg" rel="shadowbox[post-2238];player=img;"><img class="alignleft size-medium wp-image-2240" title="konjen IMG_8307" src="http://ozip-magazine.com/wp-content/uploads/2012/05/konjen-IMG_8307-300x228.jpg" alt="" width="300" height="228" /></a>Konsul Jenderal ala Pak Emir</strong></p>
<p>“Seorang KonJen yang baik itu nampak dari bagaimana dia bisa mewujudkan kepentingan nasional melalui diplomasi total, yaitu di segala bidang: ekonomi, sosial budaya, perlindungan warga, dan lain-lain. Ya itu adalah tugas dari seorang Konsul Jenderal,” jawab Pak Emir dengan pasti. Beliau mengharapkan dengan kehadiran beliau, hubungan ekonomi antara Australia, terutama Victoria dan Tasmania, dengan Indonesia dapat semakin baik. Selain itu beliau juga hendak meningkatkan jumlah wisatawan asing dari Victoria dan Tasmania ke Indonesia dan sebaliknya; juga memaksimalkan perlindungan kepada warga negara Indonesia di Victoria dan Tasmania.</p>
<p>“Di bidang sosial budaya saya hendak meningkatkan kerja sama di bidang pendidikan, termasuk di dalamnya kerja sama antar perguruan tinggi agar dapat mewujudkan kemungkinan system ‘credit transfer’ dari Indonesia ke Australia, meningkatkan pengajaran Bahasa Indonesia di Victoria dan Tasmania, dan masih banyak lagi.”</p>
<p>Mengangkat topik tentang pendidikan, OZIP pun penasaran dengan pendapat Pak Emir tentang pelajar Indonesia yang seusai lulus tidak kembali pulang ke tanah air. “Kebanyakan dari para pelajar Indonesia yang tidak pulang ke Indonesia itu memang fakta. Kita harus menengok alasan-alasan di balik itu. Mereka tentunya juga mengharapkan mendapat pengalaman baru di luar negeri. Kalau menurut saya, kontribusi seseorang kepada bangsa dan negara itu tidak harus di Indonesia. Mereka juga bisa berkontribusi dari jauh. Misalkan saja mereka bekerja di sini dan berhasil, paling tidak citra orang Indonesia di masyarakat sekitarnya itu baik. Apalagi jika mereka berhasil membangun usaha sendiri, organisasi, atau apapun yang kreditif di sini, itu akan memberikan kontribusi kepada masyarakat, mungkin ada yang tertarik bekerja bersama mereka. Nah setelah berhasil, mungkin baru bekal yang ada itu bisa dikembangan di Indonesia. Jadi tidak harus seusai sekolah lalu pulang,” ujar beliau.</p>
<p><strong><a href="http://ozip-magazine.com/wp-content/uploads/2012/05/konjen-IMG_8324.jpg" rel="shadowbox[post-2238];player=img;"><img class="alignleft size-medium wp-image-2239" title="konjen IMG_8324" src="http://ozip-magazine.com/wp-content/uploads/2012/05/konjen-IMG_8324-300x241.jpg" alt="" width="300" height="241" /></a>Rencana Kerja</strong></p>
<p>Pembaca OZIP boleh berbahagia karena dalam waktu dekat, bersama dengan Festival Indonesia Inc., Konsulat Jenderal Republik Indonesia akan mengadakan Festival Indonesia di Federation Square di bulan September. “Sebelum itu juga akan diadakan Indonesian Business Centre atau IBC di bulan Juni. Di samping kedua acara besar tersebut, di bulan Mei saya juga ingin membawa delegasi para pengusaha di bidang peternakan dan pertanian dari Australia ke Indonesia tepatnya di Surabaya, dalam rangka proyek-proyek Millenium Development Goals,” ungkap Pak Emir yang gemar masakan Padang dan Bali ini.</p>
<p>Akhir dari wawancara ini ditutup dengan pesan dari Pak Emir untuk seluruh masyarakat Indonesia di Melbourne ini. “Kita semua di sini sama-sama adalah perantau. Oleh karena itu, sebagai perantau kita harus senantiasa menjaga diri agar tidak melanggar aturan-aturan yang berlaku di sini. Kita juga menjauhkan diri dari hal-hal yang sifatnya negatif dan menghormati aturan dan budaya-budaya yang ada di sini. Sedangkan untuk ke dalamnya, kita perlu saling menjaga hubungan baik antara masyarakat Indonesia yang berbeda suku, agama, dan ras. Kita bersatu di sini dan memperlakukan perbedaan-perbedaan itu sebagai suatu kekayaan dan bukan kelemahan. Kita harus tunjukkan semangat Bhinneka Tunggal Ika,” pesan beliau.</p>
<p>Akhir kata, segenap keluarga OZIP mengucapkan selamat datang dan selamat bertugas untuk Pak Emir dan seluruh staff Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Melbourne.</p>
<p>Teks | Dina Budiarto</p>
<p>Photo | Hadi Ismanto</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ozip-magazine.com/?feed=rss2&amp;p=2238</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wayang Wong: The Wayang is Now Alive</title>
		<link>http://ozip-magazine.com/?p=2234</link>
		<comments>http://ozip-magazine.com/?p=2234#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 May 2012 15:55:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>OZIP Team</dc:creator>
				<category><![CDATA[Features]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ozip-magazine.com/?p=2234</guid>
		<description><![CDATA[Anyone feels familiar with the term Wayang? Certainly, wayang refers to performaces based on the epic story of Ramayana and Mahabrata. However, most people will refer to wayang kulit, a special Indonesian puppetry made from the skin of buffalo, as wayang itself (OZIP has written in more detail about wayang kulit in the earlier edition. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://ozip-magazine.com/wp-content/uploads/2012/05/wayang-100526-wayang-orang-3.jpg" rel="shadowbox[post-2234];player=img;"><img class="alignleft size-medium wp-image-2236" title="wayang 100526 wayang orang 3" src="http://ozip-magazine.com/wp-content/uploads/2012/05/wayang-100526-wayang-orang-3-235x300.jpg" alt="" width="235" height="300" /></a>Anyone<em> </em>feels<em> </em>familiar<em> </em>with the term <em>Wayang</em>? Certainly, <em>wayang</em> refers to performaces based on the epic story of Ramayana and Mahabrata. However, most people will refer to <em>wayang</em> <em>kulit</em>, a special Indonesian puppetry made from the skin of buffalo, as <em>wayang</em> itself (OZIP has written in more detail about <em>wayang kulit </em>in the earlier edition. Please kindly check it in our websites!). This time, however, we would like to share with you another version of <em>wayang</em>, <em>Wayang Wong</em>, played by real humans! </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Behind The Name</strong></p>
<p><em>Wayang </em><em>wong</em> (Javanese) is literally translated into <em>wayang orang </em>or “human-wayang”. It is a version of <em>wayang</em> that use people instead of puppetries to perform. However, other aspects remain similar with the original <em>wayang kulit</em>, such as story plot, characters, costume design, accessories, and even face personalization. Usually, a make-up artist will ‘paint’ the actor’s face. Therefore, viewed from aside, the face will look alike the puppetry’s face.</p>
<p>The play of <em>wayang wong</em> is the same as <em>wayang kulit</em> but usually shorter. The <em>dalang</em> (puppeteers) of <em>wayang wong</em> also has a much lighter job compared with the one of <em>wayang kulit</em> as the figures in <em>wayang wong</em> make the conversation themselves. So, the dalang only needs to read <em>Suluk, </em>a prelude of opening explanations with a special standard voice and some narration.</p>
<p><strong>History</strong></p>
<p>In the eleventh century, the center of Javanese kingdom moved from Prambanan (Central Java) to East Java under the reign of King Airlangga. The kingdoms were divided to four, each ruled by Airlangga’s son, namely, Jenggala Kingdom under King Lembu Amiluhur, Kediri or Daha Kingdom under King Lembu Amerdadu, Ngurawan Kingdom under King Lembu Mangarang, and Singasari Kingdom under king Amijaya.</p>
<p>During the reign, art and culture flourished. As <em>wayang kulit</em> had been known earlier during the previous reign in Central Java, Raden Panji Asmarabangun, the son of King Lembu Amiluhur, was instructed to create <em>Wayang </em>with human as the performers. The choice was right. Panji Asmarabangun was a great artist himself. It was the wish of king Airlangga that the history of his kingdom to be known by all court families and all his descendants. Therefore, instead of using Ramayana and Mahabrata story plot, Panji Asmarabangun developed story about Jenggala Kingdom. Later, he was also the one who had taught his brothers and relatives to be “dalang” (puppeteer).</p>
<p>This state of art remained to the 14<sup>th</sup> century during the Majapahit Kingdom. According to the book <em>Negarakertagama</em>, even the famous King Hayam Wuruk was himself a <em>wayang wong</em> dancer! Cool!</p>
<p><strong>High Art!</strong></p>
<p>In the old days, <em>wayang wong</em> was only performed in the four palaces in Yogyakarta and Surakarta. Claimed as “high culture” classical art, the performance was an entertainment medium for authorities and rulers those days. After a very long long development, it finally spread beyond the palaces and became popular among the people during 1890s and met its golden age during 1970s.</p>
<p>The <em>wayang wong</em> has certain patterns of dance movements and dresses, each is different subsequently for male and female figures. The dresses and accessories are different between kings, gods, knights, <em>begawans</em>, princesses, and commanders. There are more than 45 items for each character. For the dance movements, here are several patterns which is commonly used in the performance:</p>
<p><a href="http://ozip-magazine.com/wp-content/uploads/2012/05/wayang-bima-werkudara-wayang-orang-bharata.jpg" rel="shadowbox[post-2234];player=img;"><img class="alignleft size-medium wp-image-2235" title="wayang bima-werkudara-wayang-orang-bharata" src="http://ozip-magazine.com/wp-content/uploads/2012/05/wayang-bima-werkudara-wayang-orang-bharata-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a></p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">For male dancer</span></strong></p>
<p><strong></strong><em>a. </em><em>Alus</em></p>
<p>Involving very gentle movement, slow, and elegant as showed in the dance of Arjuna, Puntodewa, and all <em>ksatria</em> (knight) with slightly build body. This movement is divided into two movements: <em>Lanyap</em> and <em>Luruh</em>.</p>
<p><em>b. </em><em>Gagah</em></p>
<p>-        <em>Kambeng</em>. Involving a more sportive dance, such as in the dance of Bima, Gatotkaca, etc.<strong></strong></p>
<p>-        <em>Bapang</em>. Involving masculine dance with rude characteristics, usually for the knights of Korawa.<strong></strong></p>
<p>-        <em>Kalang Kinantang</em>. Involving <em>alus and kambeng </em>movements, usually found in the dance of Kresna and Suteja who are figuring tall but slim man.</p>
<p><em>c. </em><em>Kasar</em></p>
<p>This movement is involving very rough and rude movements for giants.</p>
<p><em>d. Gecul</em></p>
<p>A special movement made for apprentices and demi gods.<strong></strong></p>
<p>-        <em>Kambeng Dengklik</em> for monkey warrior Hanoman.<strong></strong></p>
<p>-        <em>Kalang Kinantang Dengklik</em> for monkey warriors Sugriwa and Subali.</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">For female dancer</span></strong></p>
<p>The movement is called &#8220;Nggruda.&#8221; In Javanese classical court dance, there are in fact 9 basic movements (<em>joged pokok</em>), 12 additional movements (<em>joged gubahan</em>), and <em>joged wirogo</em> to beautify the movements for female dancers of Bedoyo and Srimpi.</p>
<p>However, as improvisations are made here and there, in <em>wayang wong</em> with Surakartan/Yogyakartan style (Gagrak), the female dancer joins the male dancer (usually Arjuna) performing <em>alus</em> dance.</p>
<p><strong>Where to Watch?</strong></p>
<p>The classical version of the performance originated from palaces can be enjoyed until now in Yogyakarta and Solo. Several are performed regularly but more likely on special occasions. Dalem Pujokusuman, in which its <em>wayang wong</em> group is claimed as one of the best performers, staged three times a week in different venues. The ISI-Yogyakarta (Institute of Indonesian Arts)’s Padepokan Bagong Kusudiarjo and Dr. Wisnoe Wardhana&#8217;s Art and Cultural Foundation are also among few venues that staged <em>wayang wong </em>performance.</p>
<p>If you are lucky, you can also take a peek to the dance training session when visiting the Keraton (the palace) of Yogyakarta. That will be more than worth-to-be-seen as the dance trainers must be the first class experts plus you can feel the “somewhat magical” atmosphere of the Keraton. In Solo, dance rehearsal and occasional performance can also be seen in the Academy of Art and Music of ISI-Surakarta, Central Java Cultural Center, and in Keraton Kasunanan and Mangkunagaran. Again, if you are lucky, you can watch Serimpi and Bedoyo dances of Keraton in addition of watching <em>wayang wong</em> in Keraton, as well!</p>
<p><strong>-Nia Utami Tirdanatan-</strong></p>
<p><strong>Picture: brommel.net, wisatajiwa.wordpress.com</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ozip-magazine.com/?feed=rss2&amp;p=2234</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hu Ming: Tribute to the Masters</title>
		<link>http://ozip-magazine.com/?p=2228</link>
		<comments>http://ozip-magazine.com/?p=2228#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 May 2012 15:48:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>OZIP Team</dc:creator>
				<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Melbourne]]></category>
		<category><![CDATA[Features]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ozip-magazine.com/?p=2228</guid>
		<description><![CDATA[Located in the heart of Collins Street in Melbourne’s CBD, MiFA (Melbourne International Fine Art) is currently hosting Hu Ming and her remarkable works at their contemporary art space. Displaying Hu Ming’s works that revolve around the theme of womanhood and its progressions, visitors are sure to be amused and have their perception challenged in [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ozip-magazine.com/wp-content/uploads/2012/05/hu-IMG_8141.jpg" rel="shadowbox[post-2228];player=img;"><img class="alignleft size-medium wp-image-2232" title="hu IMG_8141" src="http://ozip-magazine.com/wp-content/uploads/2012/05/hu-IMG_8141-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a>Located in the heart of Collins Street in Melbourne’s CBD, MiFA (Melbourne International Fine Art) is currently hosting Hu Ming and her remarkable works at their contemporary art space. Displaying Hu Ming’s works that revolve around the theme of womanhood and its progressions, visitors are sure to be amused and have their perception challenged in this exhibition.</p>
<p><a href="http://ozip-magazine.com/wp-content/uploads/2012/05/hu-IMG_8057.jpg" rel="shadowbox[post-2228];player=img;"><img class="alignleft size-medium wp-image-2231" title="hu IMG_8057" src="http://ozip-magazine.com/wp-content/uploads/2012/05/hu-IMG_8057-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a>Hu Ming, having literally lived through the Chinese history, was a loyal servant of Chairman Mao in those days and was also a part of People’s Liberation Army. Those tough and old days however did not become an obstacle for her to continue sticking to her dream as a painter since young. Today, Hu Ming has held various exhibitions in Japan, Singapore and now Australia. Her works have been sold to buyers in the US, Canada, Asia and Europe.</p>
<p><a href="http://ozip-magazine.com/wp-content/uploads/2012/05/hu-IMG_8047.jpg" rel="shadowbox[post-2228];player=img;"><img class="alignleft size-medium wp-image-2230" title="hu IMG_8047" src="http://ozip-magazine.com/wp-content/uploads/2012/05/hu-IMG_8047-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a>Hu Ming’s <em>Tribute to the Masters </em>exhibition’s main display was the 14-metre-long picture entitled <em>Relic of the New 87 Immortals</em>, a contemporary variation on a famous scroll painting of the Northern Song Dynasty. In place of the legendary Taoist immortals, she put a long line of Chinese women, from the dignified ladies of the imperial court to two bikini-clad girls of the present day. Through this, Hu Ming hoped to map the changes that had overtaken Chinese women: from the passivity of the past, when women were regarded as little more than male possessions, to the social equality instituted by Mao Zedong. Taking heroines from some of the most famous paintings of the western world such as Da Vinci’s Mona Lisa, Botticelli’s Venus and to the work of Pablo Picasso, Hu Ming’s work is both contemporary and traditional at the same time.</p>
<p><a href="http://ozip-magazine.com/wp-content/uploads/2012/05/hu-IMG_8045.jpg" rel="shadowbox[post-2228];player=img;"><img class="alignleft size-medium wp-image-2229" title="hu IMG_8045" src="http://ozip-magazine.com/wp-content/uploads/2012/05/hu-IMG_8045-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a>Hu Ming delighted in painting girls in uniform, but not in a type of uniform that was baggy and made any woman look unattractive in it. Instead, her soldier girls were painted with blouses that are revealing at most times. Through these, her works represent Hu Ming’s ultimate revenge on the PLA for all those years spent in ugly pieces of clothing while doing a work as unpleasant as skinning babies’ skins to aid the burned soldiers in the war at her times.</p>
<p>Text &amp; Photos: Hadi Ismanto</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ozip-magazine.com/?feed=rss2&amp;p=2228</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Interview with Andra and The Backbone &amp; Ari Lasso</title>
		<link>http://ozip-magazine.com/?p=2224</link>
		<comments>http://ozip-magazine.com/?p=2224#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 May 2012 15:41:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>OZIP Team</dc:creator>
				<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Melbourne]]></category>
		<category><![CDATA[Features]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ozip-magazine.com/?p=2224</guid>
		<description><![CDATA[Siapa sih yang nggak kenal sama Andra and the Backbone dan Ari Lasso? Selebriti dan band senior dari dunia entertainment Indonesia ini turut menyumbangkan suara indahnya di acara Indonation yang digelar oleh PPIA Deakin pada tanggal 3 April 2012 lalu. OZIP mendapatkan kesempatan untuk interview secara eksklusif dengan mereka, bertepatan dengan selesainya acara Meet and [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ozip-magazine.com/wp-content/uploads/2012/05/andra-IMG_8006.jpg" rel="shadowbox[post-2224];player=img;"><img class="alignleft size-medium wp-image-2226" title="andra IMG_8006" src="http://ozip-magazine.com/wp-content/uploads/2012/05/andra-IMG_8006-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a>Siapa sih yang nggak kenal sama Andra and the Backbone dan Ari Lasso? Selebriti dan band senior dari dunia entertainment Indonesia ini turut menyumbangkan suara indahnya di acara Indonation yang digelar oleh PPIA Deakin pada tanggal 3 April 2012 lalu. OZIP mendapatkan kesempatan untuk interview secara eksklusif dengan mereka, bertepatan dengan selesainya acara <em>Meet and Greet</em> yang berlangsung hingga pukul 09.30 malam di Ramen-Ya Bourke Street. Walaupun rasa lelah sudah mulai tampak di wajah mereka, Andra and the Backbone dan Ari Lasso masih tetap melontarkan joke-joke konyol yang sangat menghibur selama interview berlangsung, membuat wawancara yang singkat jadi terasa menyenangkan. Apa aja sih yang kita obrolin pas wawancara? Langsung aja kita simak yuk!</p>
<p><strong>O: Gimana Melbourne? Udah kemana aja nih?</strong></p>
<p>A, D, S: DINGINNNNNNNNNNN!!!!!</p>
<p>AL: Aku udah keliling tadi pagi… ke Williamstown, Docklands, CBD…</p>
<p><strong>O: Kalau makanannya gimana?</strong></p>
<p>AL: Tadi sih aku coba roti tawar di supermarket enak. Air putihnya juga pas! Hahaha…</p>
<p>A: Kita ga tau juga sih makanan khas Melbourne itu apa. Ga ada kan? Malah kita kemarin makan di Nelayan, terus warung Pak ‘E, makanan Indonesia juga. Apa sih itu namanya…</p>
<p><strong>O: Blok  M? Hahaha…</strong></p>
<p>A: Iya Blok M!</p>
<p><strong>O: Ini pertama kali ke Melbourne?</strong></p>
<p>D: Pertama.</p>
<p>AL: Ini udah yang ketiga.</p>
<p>A&amp;S: Kedua. Dulu kita kan sama Dewa 19 formasi baru, sama Once. Sekarang sama ini, Andra and The Backbone.</p>
<p><strong>O: Dulu Mas Ari dan Andra pernah main satu band kan ya di Dewa 19? Gimana nih rasanya dipertemukan kembali dalam satu panggung? </strong></p>
<p>A: Saya sih terus terang aja menghindari banget manggung sama dia (nunjuk Ari Lasso) Hahahahahaha.</p>
<p>AL: ah kalau sama dia (Andra) sih udah bosen. Tiap hari di Jakarta ketemu. Hahahaha.</p>
<p><strong>O: Hahaha…Gimana pendapat Andra and the Backbone dan Mas Ari tentang acara IndoNation ini?</strong></p>
<p>AL: Bagus sekali. Mestinya jangan cuma di satu kota ya, di Perth, Sydney, Darwin juga… Tujuannya juga bagus. Mendatangkan artis dari Indonesia ke sini kan butuh usaha keras ya… Dan anak-anak Indonesia yang di Australia punya kemauan keras untuk itu. Anak-anak di Australia kan dari dulu terkenalnya kan, niat gitu kalo ngundang. Melbourne paling aktif memang. Sydney aja kalah.</p>
<p>A: Mungkin gara2 lebih gede kali kotanya jadi ngumpulnya susah hahaha&#8230;</p>
<p><strong>O: Ke luar negri udah manggung di mana aja?</strong></p>
<p>D: Amerika, Malaysia, Singapura, Korea, Jepang&#8230; Kalau manggung di luar negeri itu bukan kita yang nyelenggarain sendiri. Kita itu hanya diundang, terus diatur sama EO. Di Amerika pun kita diundang sama anak-anak Indonesia. Tahun 2004, di tiga kota. Seattle, San Francisco, sama LA.</p>
<p>AL: Kebanyakan ke Australia sih. Ke Sydney belom pernah, cuman main-main aja. Di Perth uda tiga kali. Terus Hongkong dan Asia Tenggara… ke Malaysia dan Singapura.</p>
<p><strong>O: Ada rencana ngeluarin album baru?</strong></p>
<p>D: Iya. April ini kita akan rilis album ke empat. Kita juga uda rilis video klip terbaru. Sudah bisa dicek lewat streaming. Heheheehe.</p>
<p><strong>O: Bisa kasih background sedikit mengenai Andra and the Backbone?</strong></p>
<p>D: Andra and the Backbone ini terbentuk tahun 2006, tapi album pertamanya tahun 2007. Stevie dan Andra sudah duluan kenal, karena Stevie ini pemain gitarnya Dewa 19. Terus Andra punya ide bikin album solo. Saya Februari awal 2006 masuk, rekaman, terus 2007 dirilis.</p>
<p><strong><a href="http://ozip-magazine.com/wp-content/uploads/2012/05/andra-IMG_8024.jpg" rel="shadowbox[post-2224];player=img;"><img class="alignleft size-medium wp-image-2225" title="andra IMG_8024" src="http://ozip-magazine.com/wp-content/uploads/2012/05/andra-IMG_8024-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a>O: Lagu Sempurna itu sih bagus banget lho!</strong></p>
<p>D: Lagu Sempurna itu Stevie yang bikin.</p>
<p>S: Tapi liriknya sih Mas Andra semua yang bikin. Hehehe.</p>
<p>D: Iya seperti yang saya bilang tadi album solo ini kan idenya Andra. Jadi hampir semua lagu berangkat dari idenya Andra. Kami ini cuman bikin aransemen, memberi ide tambahan. Ibaratnya Andra itu seperti produsernya, dan kita ini hanya “the backbone”. Hehehehe.</p>
<p><strong>O: Wah keren banget! Hehehe. Kalau Mas Ari?</strong></p>
<p>AL: Aku biasanya bikin liriknya. Kalau nadanya biasanya kita bikin bareng-bareng. Kalau nggak aku bikin lirik dan nadanya.</p>
<p><strong>O: Kapan Mas Ari mulai nyanyi solo?</strong></p>
<p>AL: Tahun 2000. Setelah keluar dari Dewa. Itu duet sama Melly lagu <em>Jika</em>, sama album solo yang pertama keluarnya tahun 2001.</p>
<p><strong>O: Sekarang kan lagi ngeboom boyband dan girlband di Indonesia. Gimana menurut Mas Ari dan Andra and the Backbone tentang ini?</strong></p>
<p>AL: Yah ini kan hanya trend aja. Ntar juga pasti berlalu. Mereka terkenal kan karena TV sekarang maunya itu. Ratingnya yang lagi diminati tuh yang seperti mereka, jadi boyband girlband Indonesia sekarang lagu-lagunya itu ituuuu terus. Tapi musik yang genrenya selain mereka masih tetep jalan kok. Walaupun agak susah sih masuk industri musik yang sekarang kalau belum mapan banget. Soal mereka yang meniru band Korea sih kita juga sama. Kita juga dulu niru-niru band bule. Ini kan juga bukan budaya asli kita. Hehehehe.</p>
<p><strong>O: Terakhir nih, ada pesan-pesan nggak buat anak-anak Indonesia yang belajar di Australia?</strong></p>
<p>AL: Moga-moga dalam setahun ada dua atau tiga kali lah anak-anak PPIA mendatangkan musisi-musisi Indonesia. Tapi mereka memang sudah luar biasa sih. Mereka tahu kalau yang paling mewakili dunia musik Indonesia adalah Ari Lasso dan Andra and the Backbone. Hahahahaha.</p>
<p><strong>O: Oke deh. Makasih yah Mas Ari, Mas Andra, Mas Dedy, dan Mas Stevie. Sukses terus ya!</strong></p>
<p>All: Oke dehhhh. Thank you ya! Sukses terus juga buat OZIP!</p>
<p>Teks: Natasya Guntari</p>
<p>Photos: Hadi Ismanto</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ozip-magazine.com/?feed=rss2&amp;p=2224</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

